Generasi Millenial. Siapa dan Seperti Apa Sih Mereka?

By Unknown - April 05, 2018

I'm not an expert, but I'm trying to figure out about the millennials generation issues that many people talk about.

Indonesia saat ini sedang memasuki fenomena yang dinamakan Bonus Demografi, dimana Negara kita sedang mengalami peningkatan jumlah penduduk usia produktif secara signifikan. Berdasarkan beberapa penelitian, Bonus Demografi ini akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2030 sampai 2040. Lalu apakah bonus demografi ini akan benar - benar menjadi potensi besar bagi Negara Indonesia atau malah sebaliknya? saya tentu tidak akan membahas itu lebih jauh, Namun yang akan saya bahas disini adalah mengenai pola kehidupan sebagian usia produktif itu yang disebut Generasi Millenial. Jadi sebenarnya apa dan siapa gerangan Generasi Millenial itu? Generasi Millenials atau juga disebut sebagai Generasi Y ini merupakan kelompok demografis setelah Generasi X, yaitu orang - orang yang lahir pada tahun 1980 an sampai sebelum tahun 2000. Jadi, bisa dikatakan Generasi Millenial saat ini adalah orang - orang yang berada di kisaran usia 15 sampai 34 tahun. Am I include in it? absolutely YES!

Lembaga penelitian yang terkenal sudah melakukan riset tentang Generasi Millenial selama lebih dari satu dekade adalah Pew Research Center yang dipimpin oleh Presiden Michael Dimock. Mereka menyebutkan bahwa penentuan batas atau rentang usia untuk generasi milenial maupun generasi setelahnya bukanlah ilmu pasti, tidak ada formula khusus yang disepakati untuk penentuan rentang tersebut, namun juga tidak sembarangan dalam menentukannya. Kebetulan rentang sebanyak 16 tahun (1981 – 1998) yang didefinisikan sebagai Generasi Milenial, sama dengan rentang pada generasi sebelumnya atau Generasi X yang lahir diantara tahun 1965 dan 1981. Namun, rentang Generasi Milenial dan Generasi X tersebut masih lebih pendek daripada rentang Generasi Boomers yaitu generasi kelahiran antara tahun 1946 dan 1965 (rentang 19 tahun) yang saat ini berusia sekitar 54 – 72 tahun.
Beberapa isu yang banyak membicarakan Generasi Millenial ini adalah tentang keterkaitan yang sangat erat antara Generasi Y dengan teknologi yang berkembang saat ini. Bisa dibilang merekalah penguasa penggunaan teknologi, mulai dari penggunaan untuk bekerja, untuk gaya hidup, berbelanja, maupun untuk berkarya. Sehingga, perusahaan teknologi banyak menjadikan generasi milenial sebagai target pasar mereka karena merupakan konsumen terbesar. Sampai-sampai banyak tips dan trik mengenai how to grab millenia market ini di kalangan para pebisnis. Dari berbagai karakteristik generasi millenial yang berhasil didefiniskan, saya mencoba mengambil empat karakteristik yang menurut saya paling erat menggambarkan generasi millenial itu seperti apa. Jika menurut kalian ada karakteristik lain yang lebih erat menggambarkan para milenia ini boleh lho sharing disini ^^



Ambitious People

Para generasi millenial dengan kemudahannya dalam melihat berbagai dunia dan fenomenya, menjadikan mereka sebagai generasi yang ambisius. Keinginan yang tinggi dan kuat akan sesuatu membuat mereka rela bertarung mati – matian untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, sehingga generasi ini pun menjadi generasi yang lebih kreatif dan cerdik dibandingkan generasi sebelumnya karena lebih sering melakukan eksplorasi dalam pekerjaannya. Generasi ini pun kerapkali ingin mendapatkan pengakuan atas apa yang sedang dikerjakan ataupun atas apa yang berhasil diraihnya. Tidak heran jika generasi inipun dicap sebagai orang – orang yang ‘sombong’ dan sering ‘pamer’.

Disisi lain, fenomena peran perempuan di generasi milenial juga menjadi hal yang sudah umum. Bahkan sebagian besar para millennials women juga sangat berambisi untuk bekerja. Sebanyak 91% working moms menyatakan bahwa mereka dapat meng-handle pekerjaan tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Millennial women saat ini adalah mereka yang baru berstatus sebagai ibu. Walaupun kodratnya sebagai perempuan tidak diwajibkan untuk bekerja, namun bisa dilihat di lingkungan sekitar kita, mereka – para millennial women – saat ini justru menjadikan pekerjaan sebagai suatu kebutuhan dalam hidupnya, seperti saya, entah karena memang persaingan global sudah merajalela sehingga memperkuat finansial tidak hanya dilakukan oleh para pria, namun juga para wanita, atau karena para perempuan millenial ini tidak ingin mnejadi manusia tertinggal sehingga mereka ingin terus menerus mengupgrade diri sendiri melalui berbagai aktifitas ‘diluar’ pekerjaan rumah.

Berkat sifat ambisius dan kreatifnya, banyak sekali contoh pemuda – pemudi hebat di Indonesia yang berhasil menorehkan prestasi sampai di kancah internasional. Mereka yang seperti ini pantas menjadi inspirasi bagi para generasi milenial lainnya, seperti pebisnis terkenal Nadiem Makarim (34 tahun) pendiri sekaligus CEO Go-Jek, Cofounder dan CEO Traveloka Ferry Unardi (30 tahun), Atlit bulu tangkis berbakat Kevin Sanjaya (22 tahun), Pecatur wanita indonesia Irene Kharisma (26 tahun), dan masih banyak lagi generasi muda berbakat lainnya yang tentunya menginspiratif ya.



Gadget Oriented

Are you a Wi-Fi addict?
How long can you survive without a smartphone?
How much did you pay for internet?
How many gadget that you have?


Dibanding generasi sebelumnya, generasi milenial termasuk generasi yang unik, salah satu keunikannya adalah penggunaan teknologi yang lebih dominan. Karena ternyata generasi ini lahir saat penggunaan komputer, smartphone, dan internet sedang tumbuh – tumbuhnya. Hal ini menjadikan generasi millenial mahir dalam memahami penggunaan bahasa visual. Mereka cenderung lebih mudah menyesuaikan dan beradaptasi dengan program baru, sistem operasi dan perangkat untuk melakukan pekerjaan yang berbasis komputer dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Walaupun multitasking terbukti bukan cara efektif untuk melakukan pekerjaan, namun generasi milenial berhasil membuktikan bahwa merekalah yang paling mungkin untuk melakukannya. Contoh sederhananya, kita tetap akan menggunakan ponsel kita walaupun kita sedang menonton televisi, walaupun tujuannya pun hanya untuk mengisi waktu luang saat televisi sedang menayangkan iklan.

Perbedaan mengenai teknologi antara Generasi Millenial dan Generasi X adalah Generasi milenial lebih terfokus pada peningkatan teknologi dalam pemrograman. Para milenial menggantungkan dirinya kepada internet untuk semua hal dalam hidup yang ingin diketahuinya. Macam – macam tutorial sudah tidak perlu ditanyakan lagi yaa, dari tutorial mengerjakan sesuatu yang mungkin memang sangat sulit sampai pada tutorial yang sangat sederhana, tutorial cara mengupas buah pun bahkan ada :D , Nah sebaliknya, Generasi X lebih jago dalam masalah teknis pembuatan perangkatnya, karena mereka hidup di jaman ketika perangkat elektronik mulai di create, mereka beranggapan bahwa perangkat elektronik adalah sebuah hobby kits bahkan mungkin sebuah permainan baru bagi mereka, sehingga para generasi X lebih jago mengutak – atik perangkat keras dibandingkan dengan para milenia.


Travel Oriented

Generasi Millenial punya hobi jalan jalan! Lebih dari 23 % generasi milenial senang melakukan eksplorasi ke berbagai tempat baru dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Bahkan mereka beranggapan bahwa traveling merupakan suatu kebutuhan bukan sebagai suatu kemewahan hidup (wow!), jadi generasi ini menjadikan traveling sebagai salah satu prioritas dalam pembagian pengeluaran keuangan mereka . Pada umunya, para milenia senang mencari pengalaman unik dan mengesankan serta berbeda dengan orang pada umumnya – nggak mau mainstream mereka ini - . Jika si A memposting dirinya berlibur dengan suasana salju, maka si B akan memutar otak untuk terlihat berbeda dengan berlibur ke daerah gurun pasir yang terik. Its commonly happening now, right? . Pepatah rumput tetangga lebih hijau memang sangat lekat dengan para milenia ini ya.

Terlihat bahwa tujuan bepergian para milenia lebih besar dipengaruhi oleh orang lain melalui media sosial. Tipe perjalanan para milenia juga umumnya untuk mempererat ikatan dengan partner traveling mereka dan juga ingin mempelajari tentang budaya lain. Biasanya para milenia dalam melakukan perjalanan cenderung memilih tempat yang sunyi dan terpencil serta lebih banyak memilih sistem backpacker daripada ‘wisata koper’. Generasi milenial dalam menentukan perjalanannya juga lebih tertarik berkonsultasi dengan situs –situs tinjauan dari berbagai sumber sebelum melakukan reservasi. Jadi, para pemilik logistik pariwisata harus lebih meningkatkan reputasi online nya dengan lebih hati – hati yaa jika mereka ingin menggaet para pelancong milenia ini. Tempat wisata pun kini lebih beraneka ragam keunikannya, tujuannya untuk apalagi kalau bukan untuk menggaet pasar generasi milenial yang kebutuhan travelingnya lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

You Only Live Once! #YOLO

Hayoo siapa yang punya moto #YOLO dihidupnya? Kalian generasi milenial banget kalau punya prinsip hidup seperti ini :D

Kecenderungan pola hidup yang berprinsip #YOLO ini menyebabkan para milenial lebih suka menggunakan sebagian besar uangnya untuk kebutuhan jangka pendek, memenuhi kebutuhan jangka pendeknya beresiko generasi milenial kesusahan dalam mengatur keuangannya untuk masa depan. Bahkan tidak sedikit artikel menyebutkan bahwa generasi milenial sulit mempunyai rumah sendiri dalam artian tanpa bantuan orangtua! Ngeri kaan. Para milenial beranggapan bahwa dirinya merasa kaya jika sudah traveling keliling dunia dan bisa memposting di media sosial, memposting pemandangan melalui jendela pesawat, menonton konser internasional, makan di restauran mahal dan lain – lain. Biaya hidup sebenarnya murah, tapi biaya pamer yang mahal ;) Ngerinya lagi, para pakar finansial menyebutkan jika gaya hidup YOLO yang tanpa diikuti dengan perencanaan masa depan akan membuat para milenial mengalami kebangkrutan di usia 40 tahun!

Hidup dengan prinsip #YOLO ini sah – sah saja jika diikuti dengan perencanaan masa depan yang baik. Pakar finansial (yang saya kutip dari CEO ZAP finance) memberikan tips untuk mengatur keuangan para milenial agar selamat dari kebangkrutan dini yakni dengan membagi – bagi penghasilan ke dalam beberapa pos yaitu 30% dari penghasilan dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan primer seperti makan dan transportasi sehari – hari, 30% lainnya dialokasikan untuk membayar cicilan, 15% untuk investasi jangka panjang, nah baru 10% nya dari penghasilan untuk memenuhi lifestyle atau kebutuhan tersier yang boleh kalian gunakan untuk shopping atau traveling, 10% sisihkan untuk dana darurat, dan terakhir yang penting dan tidak boleh dilupakan adalah alokasikan 5% untuk membersihkan harta kita melalui zakat ya. Dengan mengikuti cara pembagian pos tersebut, insyaAllah kehidupan #YOLO mu akan lebih menyenangkan dan tentunya menenangkan karena kita tidak perlu takut akan bangkrut di usia muda ;)

Godspeed millenials!


pic source: www.unsplash.com

  • Share:

You Might Also Like

0 comments