Usia 20-an dan Berbagai Sindromnya
By Unknown - April 03, 2018
“Kapan Nikah? Udah waktunya, Jangan kelamaan”
“Mending kamu jadi PNS aja”
“Kerja itu yang mapan dulu baru nikah”
“Kapan mau lanjut sekolah?”
Pertanyaan dan pernyataan seperti ini hanya sebagian kecil yang telah ditujukan pada saya, terlepas itu adalah keluarga dekat ataupun orang – orang yang baru pertama kenal. Di usia seperti ini memang wajar pertanyaan – pertanyaan yang seakan menekan itu dilontarkan, sehingga membuat hati dan otak harus sinkron lebih kuat agar tidak termakan omongan – omongan orang lain yang seakan menyetir kehidupan saya.
Semenjak saya sekolah sampai kuliah saya tidak pernah mentargetkan saya mau jadi apa, apa yang saya tulis sebagai resolusi setiap tanggal 31 desember, atau men display mimpi – mimpi saya di dinding kamar agar bisa teringat setiap saat. Bukan , itu bukan saya. Bahkan saya pernah berkeinginan untuk menjadi ‘seperti itu’ karena terinspirasi oleh beberapa teman dekat yang melakukan itu semua. Saya merasa apa yang mereka lakukan itu keren, punya segudang bucket list yang akan segera mereka coret satu persatu sebagai tanda bahwa mimpi atau keinginan itu sudah tercapai. Keren memang. Tetapi sekali lagi itu bukan saya, bahkan ketika pun saya melakukannya itu malah akan menjadikan diri saya orang yang ambisius, walaupun dalam beberapa kasus ambisius tetap menjadi makna positif.
Saya pernah menulis biodata atau semacam profil diri sendiri di kertas binder jaman SD kalau cita – cita saya saat itu adalah menjadi Guru, Pemain Bulu Tangkis dan Guru Ngaji. Well, ternyata cita – cita itu saya inginkan karna waktu itu saya sedang senang – senangnya bermain ‘sekolah – sekolahan’ dan saya berperan sebagai ibu guru, bermain dengan anak tetangga yang usianya dibawah saya, bahkan saat itu saya antusias sekali menulis dan membimbing mereka melafalkan huruf – huruf yang saya tulis di papan tulis hitam –yang rasanya waktu itu sebagian besar anak usia SD pasti memilikinya dirumah-. While, cita – cita sebagai Pemain Bulu Tangkis, nah itu karena saya adalah salah satu delegasi dari RT untuk mengikuti lomba Bulu Tangkis di tingkat RW untuk memperingati Hari Kemerdekaan Negara kita. Its seems that in those days the neighboring activities were more lively than now ya T.T, jadilah saat itu saya juga terinsprasi menjadi pemain bulu tangkis. The last, mengenai cita cita sebagai guru ngaji itupun karena saya merupakan salah satu murid terbaik di TPQ saya dan juga sering didelegasikan untuk mengikuti lomba – lomba islami, seperti Tartil Al-Quran tingkat kota, hafalan surah pendek, dan juga pernah mengikuti lomba pidato bahasa arab. Really great me that time huh? :D
Dan masih banyak apa – apa yang saya lakukan hingga sekarang, dan itu tanpa menggunakan arahan yang jelas. Mungkin kalian bisa bilang saya tidak punya arah dalam menjalani hidup. Tapi, untuk sampai pada titik dimana saya berada saat ini, itu sudah pasti berasal dari hal - hal yang telah saya lakukan sebelumnya, dan yang pasti, saya tidak pernah menuliskan satu kalimat pun yang berbunyi ‘saya ingin menjadi planner’. Bahkan kegagalan – kegagalan kemarin dalam hidup, tidak pernah saya permasalahankan sama sekali. Sekalipun tidak membodoh – bodohi diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain.
Jadi intinya adalah banyak hal – hal yang saya lakukan dari semenjak saya kecil pun hingga sekarang itu karena saya menjalani hidup apa adanya namun tetap dengan niat yang tidak seadanya. Saya tidak pernah melakukan apa yang saya lakukan dengan setengah hati, dan mungkin itu yang membawa saya kearah yang lebih baik. Setiap sesuatu yang saya lakukan, saya yakin sudah punya arahnya sendiri – sendiri entah itu berbelok ataupun lurus tetap akan menemukan tujuan akhirnya.
So, what syndrome I’m feeling in this 20s?
Sindrom usia 20 an? Beberapa pertanyaan yang saya tulis diawal sudah jelas merupakan ketakutan – ketakutan yang hadir di usia saya saat ini. Bahkan tidak sedikit pertanyaan – pertanyaan yang mereka tuntut diusia saya saat ini menjadi ketakutan tersediri dalam hidup. Others are just good at talking without seeing what really happened, ya gitu deh. Lalu bagaimana saya menanggapinya?, yang pertama, mengenai karir saya, saya bekerja di konsultan yang statusnya mendekati freelancer, tapi saya bersukur sampai saat ini saya masih melalukan pekerjaan ini dengan sepenuh hati dan yaaah fine – fine aja, malahan saya cenderung mencintai pekerjaan ini (haha), karena niat awal saya adalah mencari ilmu sebanyak – banyaknya dari pekerjaan saya dan yaah saya dapatkan itu. Saya pernah gagal menggapai posisi PNS tahun lalu, tapi saya tidak sedikitpun kesal apalagi menyesal, karena saya jadi tahu kekurangan – kekurangan apa yang saya miliki sehingga saya dikasih gagal sama Tuhan, baik itu dari sisi knowledge maupun dari sisi kebatinan saya, and that’s the most important, I learned a lesson from failure (yey!). Yang kedua, mengenai rencana lanjut dari kehidupan percintaan saya, well, saya sudah mempunyai pasangan sekarang yang sudah berjalan melewati empat tahun. Orang – orang yang berada di dekat saya pasti akan langsung tahu bahwa saya merupakan orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan pasangan saya ketimbang hang-out dengan teman, then don’t judges me about this. Karena saya merasa saat ini orang yang paling dan paling saya percayai adalah dirinya, orang yang tidak akan ‘menusuk saya dari belakang’, hingga saya merasa bahwa dia adalah orang ternyaman. Talking about our future, kami berdua punya prinsip tersendiri mengenai kapan, bagaimana, apa, mengapa, berapa dan pertanyaan – pertanyaan lainnya, yang kami tidak perlu beritau itu kepada banyak orang. Karena orang lain pun tidak akan turut andil dalam kehidupan kita berdua, dalam hal apapun itu. Yang perlu saya lakukan ketika mendapat banyak tekanan soal pernikahan atau lainnya setelah itu adalah mengamini harapan – harapan mereka, karena yaah I consider their questions to be prayer and hope yang berhak dijawab dan diamini lalu dipanjatkan pada Tuhan. Dan yang perlu orang – orang lain lakukan adalah tidak perlu membuat perbandingan – perbandingan dengan apa yang sudah mereka lakukan, atau kalimat – kalimat pertanyaan yang sudah mereka lakukan lalu mereka menginginkan saya melakukannya juga, tidak perlu lagi, karena yang dibutuhkan hanyalah saling mendoakan.
Tidak bisa dipungkiri pasti awalnya terjadi pergolakan antara keinginan orang lain dengan prinsip hidup yang saya miliki, jadi sejatinya prinsip lah yang bisa menyelematkan saya untuk tidak menjadikan omongan orang lain sebagai suatu kegalauan yang amat panjang. Karena yang mengerti tujuan hidup saya adalah saya dan yang Maha Mengetahui.
pic source: www.unsplash.com
"Our twenties are about what we plant in the ground, not about what we harvest. We can’t keep pulling our seeds out of the dirt before it has time to grow."
— Paul Angone, All Groan Up
— Paul Angone, All Groan Up


0 comments